Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Agustus 2015

REVIEW 16 : CRITICAL ELEVEN

Judul : CRITICAL ELEVEN


Author : Ika Natassa


Tahun terbit : 2015


Halaman : 344 hal


Penerbit : Gramedia


 


Entah sejak kapan saya mencintai buku-buku Ika Natassa, bahasanya ringan dan informatif. Ia bisa membawa pembacanya untuk ikut larut dalam cerita dan penokohannya sangat detail.


Ale dan Anya dipertemukan dalam pertemukan yang tidak disengaja di pesawat. Obrolan yang berlangsung beberapa jam sangat membekas diantara keduanya. Aldebaran Risjad, seorang engineering, yang berliburan ke Sydney, terkesima saat Tanya Baskoro membantu seorang kakek mengangkat koper saat di bandara.


Ale dan Anya akhirnya berpacaran dan menikah. Bandara menjadi tempat yang bersejarah buat Anya, karena disanalah ia menemukan belahan yang dicintainya sekaligus dibencinya. Anya yang dulunya sangat merasa dicintai oleh Ale, sekarang benar-benar membenci dan ingin melupakan Ale.




Ale dan Anya beberapa kali harus melakukan LDR-an karena pekerjaan Ale sebagai teknisi pengeboran minyak di New York. Saat libur 1 bulan, Ale mamanfaatkan waktunya untuk quality time bersama istri dan keluarga besarnya. Daaaan, for your information, si Ale ini adalah kakak kandung Harris Risjad, ahaha. Remember? Di novel ini juga dibahas sedikit tentang Harris yang akhirnya (akan) bertunangan sama Keara—cintanya Harris di Antologi Rasa.


Pernikahan tidak selalu berjalan mulus, pasti akan ada kerikil-kerikil sebagai ujian agar setiap pasangan lulus. Dalam rumah tangga Anya dan Ale pun demikian. Pernikahan mereka guncang sejak baby boy mereka—Adian meninggal.


Di tengah kesedihan tersebut, Ale melakukan kekhilafan yang harus dibayar dengan mahal, dimana sejak saat itu Anya sangat membenci dia. Hebatnya, keduanya bisa menyembunyikan konflik tersebut dari kedua keluarga besar. Mereka bersikap biasa dan wajar, saat berkumpul dengan keluarga.


Hanya Papanya Ale yang peka dengan kondisi rumah tangga Ale yang bermasalah dan menasehati Ale untuk tetap bersabar membujuk Anya agar mau menerimanya kembali. Ale hampir frustasi meminta maaf kepada Anya yang tetap dingin. Akhirnya, saat moment ulang tahun Ale, Anya disuruh untuk pura-pura minggat dari rumah oleh Harris—ini skrnario Harris untuk memberikan surprise untuk Ale.


Ale pias saat mengetahui Anya mengemas baju dan pergi. Ia mencari kemana-mana. Saat Harris menyuruhnya untuk datang ke suatu tempat, disana telah lengkap keluarga besar dan adik-adiknya untuk memberikan kejutan ulang tahun. Ale mencari Anya di seluruh ruangan tetap tidak ada, ia hanya diam dan tidak bertanya apapun kepada keluarganya karena merek tidak tahu mengenai konflik yang dialaminya.


Di pertengahan acara, Anya hadir dan mengucapkan selamat kepada Ale. Ale baru saja tahu kalau minggatnya Anya hanya skenario, tetapi hal tersebut benar-benar membuatnya blingsatan. Di acara tersebut, Anya mencoba bersikap biasa, foto-foto, membaur dengan yang lainnya.


Cinta selalu memiliki caranya untuk kembali. Ika Natassa mengemas konflik dengan sangat apik. Adegan sex antara Ale dan Anya-pun disajikan secara menawan dan tidak berlebihan. Bagaimana Ale bisa meyakinkan Anya untuk kembali ke pelukannya? Dan kalian penggemar Metropop, wajib baca ini.


Tidak hanya itu, Ika Natassa mampu menjual buku cantik yang bertaburan angka 11 ini sebanyak 1111 dalam waktu 11 menit doang. Brengseque banget ya pinternya :*

Minggu, 12 April 2015

Review 13 : DIVORTIARE

Author          : Ika Natassa
Cetakan        : 2008
Penerbit        : Gramedia
Halaman       : 288 hlm
Bintang         : 4 of 5

Alexandra, seorang banker cantik, smart dan memiliki karier yang cemerlang di Border Bank. Sayangnya, karirnya tidak semulus dengan kisah cintanya. Rumah tangganya bersama Beno Wicaksono harus berakhir dengan perceraian di tahun perkawinan mereka yang ke-2.

Beno, Dokter bedah yang tampan dan bisa membuat Alexandra uring-uringan. Meskipun sudah bercerai, keduanya sering bertemu dalam beberapa kesempatan dan hampir selalu bertengkar. Alexandra menyimpan rasa benci yang mendalam kepada Beno karena ia beranggapan bahwa Beno yang selalu memprioritaskan profesinya dibanding dengan rumah tangganya.

Dalam kisah mereka berdua, ada Wina dan Riza. Wina adalah sahabta Alexandra yang merupakan pacar dari Riza—seorang dokter bedah dan berteman dengan Beno. Jadi ceritanya hanya berputar pada satu sumbu dengan cabang-cabang cerita lain yang hidup.

Kebencian Alexandra adalah akibat dari perasaan cintanya terhadap Beno. Sehingga Alex seringkali kecewa, menangis dan senewen jika berhadapan dengan Beno. Di pertengahan cerita, ada sosok Deni yang menjadi teman dekat Alexandra. Lelaki itu juga seorang banker.

Kedekatan Deni dan Alex, selain karena profesi mereka yang sama, tetapi mereka berdua saling membutuhkan. Deni merasa nyaman dengan Alex, dan sebaliknya. Namun, pada akhirnya, Alexandra tidak jadi dengan Deni meskipun keduanya sempat bertunangan.

Honestly, bahasa Ika Natassa mengalir. Konflik yang diciptakannya begitu hidup dan saya dibuat greget dalam alur cerita tersebut. Alexandra dan Beno mampu menjadi magnet untuk tetap membaca novel ini sampai habis.

Ada beberapa informasi tentang fashion yang dimasukkan dalam cerita ini yang dapat menjadi wawasan tambahan pembacanya. Meskipun ada bahasa-bahasa yang sedikit nakal, saya merasa nyaman, padahal sebelumnya saya tidak menyukai gaya bahasa yang “nakal” tersebut :p

Dan kisah Alex dan Beno masih berlanjut di buku selanjutnya. Can’t wait to read the next chapter about their intrict love.


Minggu, 22 Februari 2015

Review 11 - Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin

*Diambil dari kalimat anonymous The falling leaf doesn’t hate the wind yang dipopulerkan dalam film Jepang Zatoichi

Author          : Tere Liye
Cetakan        : ketiga, Maret 2011
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
ISBN             : 978-979-22-5780-9
Halaman        : 264 hlm
Bintang         : 4 of 5


“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkann dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih menyakitkan”

Sudah lama ingin mereview buku ini, baru kesampaian. Gemas dan membekas setelah membacanya - meskipun berulangkali. Tabiat Tere Liye memang begitu, selalu bisa membuat pembacanya terhanyut oleh cerita dan plot di dalam karangannya. Bahkan tidak jarang saya menangis saat membaca quote yang ia selipkan.

Tere Liye meramu ralita ke dalam cerita fiksi dengan brilian sehingga pembaca bertanya “ini true story” bukan sih? Tania, gadis berkepang dua, bersama adik dan ibunya mengamen di jalanan, bis ke bis. Mereka bertemu dengan Danar yang dikisahkan baik hati dan menjadi sosok sentral dalam novel ini.

Danar membantu Tania dan Dede bersekolah, membelikan mereka berdua buku-buku, krayon dan tas. Selain itu, ia juga membantu mencarikan kontrakan layak huni untuk mereka. Karena kebaikannya, entah kapan perasaan Tania mulai tumbuh. Benih itu kian hari kian subur dan Tania menutup rapat-rapat dari semua orang, termasuk  rasa cemburunya terhadap Ratna, teman Danar yang kadang menemaninya berkunjung ke kontrakan Tania.

Beberapa waktu kemudian, ibu Tania meninggal. Tania dan Dede manjadi yatim piatu.

Selepas ibunya meninggal, Tania ikut beasiswa untuk sekolah SMP di Singapura. Ia diterima. “Kau anak yang bisa diandalkan, Tania. Selalu. Kau akan tumbuh besar dan cantik disana... Pintar membanggakan!” Kalimat Danar membuat hati Tania berdesir. Tania berjanji akan sungguh-sungguh belajar dan menjadi yang terbaik.

Tania berkomunikasi dengan Danar melalui chatting. Ia cerita banyak hal khususnya tentang studynya. Danar memakai username Maibelopah, dan yang saya tau itu adalah nama pena Tere Liye (dulu). Di ulang tahun Tania yang ke-17, Danar (31th) memberikan hadiah berupa liontin berbentuk huruf T. Membuat Tania tersipu sekaligus memendam dalam-dalam perasaannya. Liontin itu memiliki arti yang Tania tidak mengetahui. Danar juga memiliki liontin berhuruf DD, Dede dan Ibu juga diberikan liontin sesuai dengan huruf depan namanya.

Tania menjadi gadis yang sangat ambisius. Ia ingin menjadi yang terbaik, seperti janjinya. Tania mencoba membuka kedai kue, merintisnya dengan kepiawaian manajerialnya. Saat wisuda kelulusan SMA, ia menjadi lulusan yang terbaik. Danar hadir bersama Ratna. Mendadak pidato yang disusun Tania menjadi kacau. Karena perasaan cemburunya.

Tania kaget saat Ratna memberitahunya akan menikah dengan Danar. 3 bulan lagi. Berita itu terasa sangat menyedihkan, memusnahkan harapan Tania. Inilah yang membuatnya tidak pulang menghadiri pernikahan lelaki yang dianggapnya malaikat. Saya mulai gemas, kenapa Tania tidak bilang sebelum-sebelumnya kepada Danar kalau ia mencintainya? Malah memilih menutup rapat-rapat dan menikmatinya sendiri. Tere Liye sengaja membuat cerita dengan alur seperti itu. Membiarkan Tania kesakitan dalam kesibukannya menuju kesuksesannya. Penulis mengarang  dengan halus bahwa cinta tidak harus memiliki. Berbuat baik dan memperbaiki diri. Ah sudahlah, menuliskan ini saja saya terbawa perasaan. Ahaha

Setelah Danar dan Ratna menikah ada banyak teka-teki yang ibarat puzzle, Tania perih merangkainya. Dan semakin sakit saat puzzle itu lengkap. Rahasia itu terungkap. Pola hubungan Danar dan Tania agak ganjil, tidak seperti dulu lagi. Tania enggan menghubunginya duluan. Lebih memilih menyibukkan dirinya agar lupa terhadap perasaannya tetapi tidak bisa.

Dede yang mengetahui cerita yang dibuat oleh Danar di laptopnya. Cerita yang tidak akan pernah dapat diselesaikan, “cinta di bawah pohon Linden”. Salah satu puzzle yang membuat Tania pening memikirkannya karena kisah cinta dalam cerita tersebut mengarah padanya. Puzzle berikutnya adalah saat hubungan Danar dan Ratna menjadi hambar. Ratna justru curhat kepada Tania. Ratna merasa bahwa Danar tidak pernah mencintainya. Ada seseorang yang menjadi pesaingnya namun Danar tetap mebisu akan hal itu. Tania semakin perih. Liontin yang dipakai Tania menjadi puzzle yang genap membuktikan bahwa wanita yang menjadi pesaing Ratna di hati Danar adalah Tania. Gadis yang dulunya ditolong oleh Danar dan saat ini berubah menjadi wanita mandiri dan diakui. Iya, lontin itu istimewa.

Seperti Tania yang pandai menyimpan rapi perasaannya. Danar pun juga tidak pernah mengakui bahwa sebenarnya ia memiliki perasaan yang sama terhadap Tania. Ending cerita novel ini menggantung, memang cinta Tania tidak pernah berlabuh kepada Danar. Meskipun sebagai pembaca, saya merutuk kepada Danar yang tidak bisa tegas pada cintanya sendiri. ratna memilih kembali ke Singapura membawa cintanya yang tidak akan pernah sampai. Meninggalkan malaikat dan kenangannya. Pengen banget ngasih bintang 5 seperti biasanya, tapi endingny bikin nyebelin. 4 berasa 5 J



Senin, 03 November 2014

Review 5 # Ku temukan Engkau di setiap tahajudku

Judul             : Ku temukan Engkau di setiap tahajudku
ISBN             : 978-602-7888-52-4
Penerbit         : Bunyan (Bentang Pustaka)
Cetakan         : Pertama, Edisi kedua 2013
Pengarang      : Desi Puspitasari
Halaman        : 170 halaman
Bintang          : 4 of 5 stars

Agus, pria gondrong yang memiliki hobby balap motor diam-diam menyukai gadis bernama Airin—gadis yang merupakan teman SMP nya. Mereka dipertemukan kembali saat Agus membantu seorang ibu yang mengalami kecopetan. Saat Agus melakukan perkelahian dan terjatuh, tiba-tiba ada seorang gadis cantik berjilbab yang menendang copet tersebut. Apa ini skenario jodoh ya?
Secara kasat mata memang ada perbedaan yang mendasar antara Agus dan Airin. Agus terkesan urakan dan ugal-ugalan sedangkan Airin adalah wanita yang taat agama dan smart. Akan tetapi jika ditelisik lebih mendalam, Agus sebenarnya adalah sosok yang baik? Mengapa saya bilang demikian (Secara pribadi)? Ini udah menilai berdasarkan perasaan. Haha. Karena Agus sangat penyayang terhadap ibunya. Dia hanyalah korban keadaan.
Agus memiliki seorang kakak yang didambakan menjadi penerus perusahaan keluarga. Namun takdir berkata lain, kakaknya meninggal karena sakit. Sejak saat itulah, kesedihan mendalam menyelimuti Bapaknya. Bapaknya tenggelam dengan pekerjaannya dan lebih sering tidak pulang. Agus yang diharapkan menjadi pengganti kakaknya ternyata membuat keadaan tersebut menjadi beban dan tekanan. Hasilnya, Agus menjadi pria yang bebas, sering pulang malam dan penyuka balap motor.
Hal yang menarik yang diceritakan disini adalah saat Agus pulang larut malam, ia sering mendapati ibunya mengenakan mukena—sholat tahajud. Berkali-kali Agus menanyakan kepada ibunya, kenapa gemar sekali sholat tahajud, senyum ibunya selalu mereka, wajahnya bersinar menatap putranya. Meskipun ibunya menjelaskan mengapa ia menggemari tahajud, namun bagi Agus, jawaban itu teramat klisei baginya.
Sebelum saya membaca utuh buku ini, saya mengira bahwa sholat tahajud yang dimaksud dalam cerita ini diperuntukkan untuk hajat meminta jodoh. Tapi ternyata saya salah besar. Tahajud dilakukan oleh seorang ibu untuk senantiasa mendoakan anaknya. Oh Really so sweet.
Berjalannya waktu, Agus memberanikan diri untuk nembak Airin. Setali tiga uang, ada teman Airin yang juga jatuh cinta dengannya—Dewa. Meskipun secara cerita sudah ditebak bahwa Airin sebenarnya juga mencintai Agus, akan tetapi penulis ingin memerpanjang lagi nafas cerita novel ini dengan membelokkan sedikit arah cerita. Airin tidak menerima Agus maupun Dewa. Ia berprinsip tidak ingin pacaran dan memercayai bahwa jodoh pasti bertemu. Iya, seperti judul lagunya Afgan.haha
Feeling lelaki kadang-kadang benar. Dewa merasa kalau Airin mencintai Agus, sehingga ia kalap mamukul Agus karena merasa dirinya telah merebut Airin darinya. Kadang kekanak-kanakan sih kalo sampe kayak gini, tapi adegan ini ada yang nyata lho. Setelah mendengar penjelasan Agus kalau dirinya juga mendapat penolakan dari Airin, sikap Dewa mendadak meluruh.
Agus mengalami shock ketika ibunya meninggal. Entah mengapa sikapnya menajdi berubah. Ada hal yang ia cari tapi gagal menemukan jawabannya. Dia memutuskan untuk pergi jauh dengan motornya. Di suatu malam ia menemukan sebuah mushola yang ternyata di sanalah ia menemukan jawaban mengapa dulu sangat menggemari tahajud.
Sikap Agus kian hari kian berangsur menjadi pribadi yang lebih baik. Menyelesaikan skripsi, tidak balap liar dan rajin tahajud. Agus bersedia bekerja di perusahaan bapaknya dengan satu syarat bahwa ia memulainya dari nol. Saat kehidupannya mulai tertata, Agus kembali mencari tau mengenai Airin. Kalian bisa nebak kan endingnya gimana? :D
Novel ini pernah dibikin FTV. Meskipun belum pernah melihat FTV tersebut, kalo boleh mbayangin nih ya, pemeran dalam FTV tersebut adalah sebagai berikut :D
Ibu     : Henidar Amroe
Bapak : Mathias Mucus
Airin    : Ririn Dwi Ariyanti
Agus   : Aldi Bragi
Dewa  : Adiknya Aldi Bragi aja deh yang dulu rumornya mantan Tika Panggabean (hahaha, gak boleh protes ya, list ini hanya untuk kidding-kiddingan aja)



Senin, 27 Oktober 2014

Review 4 # Dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap cinta



Judul         : Dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap cinta
ISBN          : 978-602-03-0718-3
Hal            : 69 halaman
Cetakan     : Kedua, September
Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama
Penulis       : Tere Liye
Bintang      : 4 of 5

Kumpulan 24 sajak dengan ilustrasi terbaik dari Tere Liye.
Sajak tentang memiliki, pun tentang melepaskan
Sajak tentang pertemuan, juga tentang perpisahan
Sajak tentang kebahagiaan, juga tentang kesedihan
Tambahkan pula sajak berguarau
Bercanda dengan perasaan

Para pecinta adalah pujangga terbaik yang pernah ada
Dan  kasih saying pun adalah sumber inspirasi paling deras yang pernah ada

REVIEW

Waktu diminta vote sama Tere Liye terkait dengan pemilihan cover buku ini, saya sangat antusias sekali. Berarti ada buku menarik yang akan menjadi teman di kereta. Sempat kehabisan stock di bukabuku.com, beralih ke parcel buku dan alhamdulillah masih ada—sudah masuk cetakan kedua. Mendapat sedikit bocoran dari teman kalo buku ini tipis dan habis sekali kedip (sarkas banget ya, sekali kedip. Ahaha).

Ternyata benar, buku ini tipis, tapi tetap saja membacanya gak bisa sekali kedip. Perjalanan stasiun Juanda-Pondok China khatam. Bahasanya ringan, mudah dicerna. Entah sajak atau lebih tepatnya sebagai susunan kalimat yang inspiratif. Kalau boleh saya merangkum, buku ini bercerita tentang suatu proses—proses cinta, proses melepaskan, proses sabar, etc. Banyak pesan-pesan yang tersirat mendalam bagi pembacanya, seberapa menyakitkan luka itu, nikmatilah, peluklah.
Maka berhentilah sejenak saat sakit hati itu tiba, rasakan segenap sensasinya // Lantas tertawa kecil atau terkekeh juga boleh, kita adalah manusia (hal 28)
Sebagian besar tulisan dalam buku ini pernah di-share di page resmi Darwis Tere Liye, sepotong-potong memang, Cuma bila digabungkan bait-bait tersebut, akan membentuk 1 puisi.

Tulisan ini dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang (mungkin) digambar oleh putra semata wayang Tere Liye—Abdullah Pasai :p. Ah, siapapun yang menggambarkannya, saya tetap suka, atau mungkin karena gaya bahasa Tere Liye adalah selera saya? :D

Dari ke 24 sajak yang dituliskan dalam buku tersebut, ada satu sajak yang sangat saya suka. Judulnya “Sajak Embun dan Perasaan”

Kenapa embun itu indah?
Karena butir airnya tidak menetes
Sekali dia menetes, tidak lagi embun

Kenapa purnama itu elok?
Karena bulan balas menatap di angkasa
Sekali dia bergerak, tidak ada lagi purnama

Aduhai, mengapa sunset menakjubkan?
Karena matahari menggelayut malas di kaki langit
Sekali dia melaju, hanya tersisa gelap dan debur ombak

Mengapa pagi menenteramkan dan dingin?
Karena kabut mengambang di sekitar
Sekali dia menguap, tidak ada lagi pagi

Di dunia ini,
Duhai, ada banyak sekali momen-momen terbaik
Meski singkat, sekejap
Yang jika belum terjadi langkah berikutnya
Maka dia selalu special

Sama dengan kehidupan kita, perasaan kita
Menyimpan perasaan itu indah
Karena penuh misteri dan menduga
Sekali dia tersampaikan, tidak ada lagi menyimpan

Menunggu seseorang itu elok
Karena kita terus setia berdiri
Sekali dia datang, tidak ada lagi menunggu

Bersabar itu sungguh menakjubkan
Karena kita terus berharap dan berdoa
Sekali masanya tiba, tiada lain kecuali jawaban dan kepastian
Sungguh tidak akan keliru bagi orang-orang yang paham

Wahai, tahukah kita kenapa embun itu indah?
Karena butir airnya tidak menetes
Sekali dia menetes, tidak ada lagi embun
Maka singkat yang begitu berharga

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, bahwa sajak-sajak Tere Liye berisi pelipur perasaan. Meneguhkan ajaibnya kesabaran, azimat doa dan ketekunan berusaha. Sajak-sajak dalam buku tersebut menjadi antitesis dari “Cinta yang selalu diucapkan dan harus memiliki”. Kutipan sajak Embun dan Perasaan menjadi salah satu dari sajak-sajak Tere Liye yang lainnya yang menyiratkan bahwa saat belum siap untuk menikah, mending kita menjaga perasaan kita baik-baik—karena itu momen terbaik. Sekali kita mengatakannya, perasaan itu seperti menguap begitu saja. Sungguh tidak akan keliru bagi orang-orang yang paham. Manis sekali filosofinya.
Jangan mengeluh // jangan risau // hanya orang-orang terbaik yang akan lulus // lantas melihat kristal cintanya begitu indah (Sajak UN-hal 7)
Hanya orang-orang terbaiklah yang akan mendapatkan kabar baik // hanya orang-orang bersabarlah yang akanmenrima hadiah indah (Sajak Hujan-hal 10)
Eh, ternyata ada satu sajak lagi yang saya suka dari Buku ini, here we go.


Ssstt… diamlah sebentar!
Cinta sejati hanya bisa didengar justru dalam senyap
Bukan gegap gempita kalimat yang mengaburkan makna
Dan kita tertipu oleh tampilannya

Ssstt.. ayo duduk sejenak!
Cinta sejati hanya bisa dikenali saat sepi
Diperhatikan dengan seksama, dalam kesadaran diri paripurna
Bukan berisik teriak-teriak “Aku cinta kamu!”
Tapi esok lusa kita meratap kencang-kencang sebaliknya

Ssstt.. bisakah kita diam dulu?
Agar cinta sejati menunjukkan diri sebenarnya
Apakah yang ini, atau yang itu, atau mungkin yang lain lagi
Dan kita harus menunggu dan bersabar bersabar (Sajak Diam Sebentar—hal 41)

In the end, saya bisa menyimpulkan bahwa pesan-pesan yang hendak disampaikan penulis adalah antitesis dari realita kebanyakan dalam kehidupan. Saat remaja-remaja disuguhi sinetron dan tontonan yang sebenarnya secara tidak sadar membentuk pembenaran dalam diri mereka—bahwa cinta harus disampaikan, fenomena pacaran, kata-kata I love you yang tumpah ruah seperti buih.

Buku ini menyuguhkan lain daripada yang lain, saat sajak-sajak lain bermunculan karena patah hati, tangisan dan sikap nelangsa  lainnya. Tulisan ini menyiratkan pesan agar pembaca memeluk erat-erat perasaan sakit itu, agar luka dihabisi oleh waktu. Adios



Rabu, 22 Januari 2014

Review 1 # TEST PACK


Judul                 : Test pack
Pengarang          : Ninit Yunita
Penerbit             : Gagas Media
Halaman            : 202
Cetakan             : ke-12, 2012.
Bintang              : 4 of 5

Awalnya, merasa ilfeel baca judulnya, tetapi terobati melihat cover bukunya  yang manarik. Gambar 2 gelas yang (mungkin) berisi wine yang mengilustrasikan tentang pernikahan. Yes, it’s true. MARRIED and COMMITMENT.

Arista Natadiningrat, dipanggil Tata, adalah istri dari Rahmat Natadiningrat yang sudah menikah 7 tahun tetapi belum juga dikarunia seorang anak. Tata yang gemar mengkoleksi test pack untuk tes kehamilannya mendadak berubah manyun jika test pack nya hanya menunjukkan 1 garis saja.

Saya begitu tergoda membaca per lembarnya, pembawaan Ninit Yunita yang mengemas bahasa Sunda, Indonesia, gahul (loe-gue) dan bahasa Inggris yang membuat saya sangat menikmati buku ini. Membuat saya tiba pada ujung pertanyaan, sebenarnya tujuan menikah itu apa? 
“Komitmen adalah sumber kekuatan bukan sesuatu yang justru membuat orang takut untuk menghadapinya”
Penulis juga menyelipkan teori-teori Psikologi, ada juga sedikit kamasutra-nya sih, cuma gak terlalu vulgar. Mendadak menyeringai di satu bab, senyum-senyum sendiri, tapi di satu titik ada rasa gemas saat mengilustrasikan kita yang menjadi tokohnya.

Rumah tangga Rahmad dan Tata goyah setelah Tata mengetahui ternyata suaminyalah yang mandul. Dia memutuskan pergi dari rumah, seakan-akan kata mandul menghapuskan semua kisahnya yang selama 7 tahun telah dirajut bersama suaminya. Klimaks persoalan ini membuat napas saya kembang kempis mengira-ira ending-nya. Waaaa, sulit menjadi Tata, tetapi lebih sulit lagi menjadi Rahmat. 

Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin karena dia kaya. Tidak pernah berpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dulu atau mendadak miskin.

Will you still love them, then?
That’s why you need commitment.
Don’t love someone because of what/how/who they are
From now on, start loving someone
Because you want to.

Novel ini mengajarkan saya untuk menahan bertanya hal-hal yang fungsinya samar-samar (antara basa-basi, care atau cenderung menyakitkan bagi beberapa orang). “Sudah hamil belum?”, itu ibarat pertanyaan “Kapan menikah?” “Bagaimana skripsinya?”, akan terasa sangat menjengkelkan bagi sebagian kalangan. Jangankan pertanyaan itu, sekedar mengetahui kucing tetangga yang hamil saja Tata bisa merasa senewen minta ampun. Happy reading Kakang, Neng. Adios.